KEMATIAN


Oke para klikers sudah saatnya kliki bagi-bagi cerita lagi di www.klikkiyo.blogspot.com. Yah masih belum bagus-bagus amat, tapi namanya latihan. Iya ga?? Ok langsung saja ini dia : KEMATIAN 

Kematian. Perih memang. Tapi itu akan terus terjadi, tanpa henti. Kematian mengingatkanku akan 3 hal. pertama, bahwa tidak ada yang abadi di alam semesta ini kecuali Allah SWT. kedua, benarlah apa yang dikatakan pepatah, kehidupan selalu saja seperti ini, laksana sebuah roda. Berputar, berawal dari tanah dan berakhir di tanah pula. ketiga, di dunia amal tanpa hisab, dan di akhirat hisab tanpa amal, dan keduanya dipisahkan oleh yang namanya kematian. Seperti yang dikisahkan oleh penulis terkenal Indonesia dalam novelnya. Seorang yang tidak memiliki rasa takut, sesenti pun, namun akhirnya ia kalah oleh kematian orang-orang terdekatnya, yang akhirnya membuatnya tumbang meskipun setelah itu ia mampu untuk bangkit kembali.Kematian selalu saja seperti itu. Datang tanpa diundang. Mungkin kalian menganggap ini semua omong kosong belaka. Namun percayalah, kematian akan selalu saja seperti itu. Misterius.
Pagi ini berjalan seperti biasa. Layaknya Rabu pagi minggu ketiga di setiap bulannya. Setelah shalat shubuh dan sarapan, aku mengambil tas di pojok kamar dan kemudian melangkahkan kaki menghampiri pintu kamar. Di balik pintu sudah kuduga ada seorang gendut yang tengah menungguku sambil duduk meminum teh buatan bulik ku. Benar, hari ini berjalan amat sangat biasa, tanpa kurang dan lebih sedikitpun, kecuali ada berita yang mengabarkan bahwa  calon presiden akan melakukan kampanye di lapangan pancasila, tidak jauh dari sekolahku. Yang kudengar dari radio yang ada di meja samping tv yang kulewati bersama teman gendutku saat di rumah tadi. Dan itu tidak menarik perhatianku sama sekali. Karena aku merasa politik selalu saja seperti itu. Kotor. Begitu juga teman gendutku. Kami sudah sepakat untuk tidak membahasnya selama ini.
Menaiki sepeda motor melewati gang sempit daerah kumuh ibukota negara bukanlah perkara mudah. Aku harus berada disini selama satu tahun untuk akhirnya bisa melewati seluruh rintangan yang ada di jalan (gang sempit) tanpa menjejakkan kakiku di tanah. Keluar dari gang sempit aku dan teman gendutku langsung dipertemukan dengan udara panas polusi khas ibukota negara terbesar di Asean ini. Meskipun hari masih pagi, hal ini tetap saja terjadi tidak dapat dihindari. Terkadang bila aku dan teman gendutku ingin berangkat tenang tanpa suara bising klakson dan panasanya udara, kami harus berhasil keluar dari gang sempit pukul 5 pagi. Tentu saja tanpa ada acara minum teh buatan ibu kost yang biasanya tak pernah terlewat oleh teman gendutku. Sekolah kami tidaklah jauh, mungkin jika seluruh sekolah beserta kantor di seluruh instansi di ibukota ini libur, kecuali sekolah kami dan ditambah gang sempit depan rumah berubah menjadi gang luas yang bersih. Kami tidak membutuhkan waktu lebih dari 40 menit untuk sampai di sekolah. 2X lipat lebih cepat dari hari-hari biasanya.
Pukul 7.15 kami sampai di gerbang sekolah. Membalas sapaan datar dari satpam, yang mungkin memang dipaksa untuk menyapa oleh kepala sekolah tanpa ada keinginan untuk menyapa. Kemudian kami meletakkan motor di area parkir C4, area parkir khusus anak IPA kelas menengah ke bawah yang disana isinya hanya motor-motor butut atau sepeda milik mereka yang beruntung diterima di kelas IPA tanpa pernah berharap sebelumnya. Jika kau ingin melihat motor-motor keren atau bahkan mobil yang dibawa para siswa, kau bisa mengunjungi area parkir A2. Area parkir anak IPA kelas high end, anak IPA yang memang benar-benar orang tua mereka menginginkan anak mereka berada di sana. Tapi hal ini sudah kurasa biasa bagiku. Aku sudah berada disini setahun terakhir, dan aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini, meskipun memang tidak menyenangkan bagi mereka yang memang belum terbiasa akan kondisi seperti ini.
Motor sudah aman, kunci stang (agar lebih aman lagi), helm di lepas, lalu kami berduapun berjalan menyusuri lorong sekolahan yang terang oleh semburat cahaya matahari pagi. Tanpa menyapa siapapun. Kami hanya mengobrol santai berdua saja sambil berjalan cepat menuju kelas 11 IPA 4. Kelas yang kudapat setelah Ulangan Kenikan Kelas 1 bulan lalu. Begitu juga teman gendutku. Kami bernasib sama. Tidak pintar dan tidak juga kaya apalagi keren. Dan kelas dengan lebel angka 4 lah yang cocok untuk manusia-manusia yang seperti ini. Nasib. Namun aku sendiri masihlah pantas untuk bersyukur, dengan keberadaan teman gendutku ini. Yang menjadi teman baikku sejak kurang lebih setahun belakangan, sejak aku masuk SMA ini. Meskipun sebenarnya dia juga memiliki teman selain diriku, namun dia tetap bertahan bersamaku. Bersabar mengajarkanku banyak hal perkara lingkungan dan sekolah baru. Dan aku amat bersyukur untuk itu.  Dia baik, ramah, dan rendah hati meskipun terkadang dia merasa lebih hebat dariku yang merupakan berbalikan dengan fakta yang terjadi. Tapi itu menyenangkan dibanding memiliki teman yang selalu memuji kita. Selalu baik. Bosan. Dia juga merupakan warga setempat. Penduduk asli daerah yang kutinggali selama bersekolah di SMA ini. Jelas dia lebih mahir mengendarai sepeda motor melewati gang sempit nan terjal depan kost. Sejak kelas 1 SMP dia sudah bisa melewatinya menggunakan sepeda motor. Ah ya, dia juga sangat pandai bermain ps. Permainan yang biasanya kupilih saat sedang jenuh. Meskipun sebenarnya bukan hanya saat  jenuh melainkan kami berdua memiliki jadwal tetap setiap sabtu jam satu siang. Mengunjungi rental ps2 dan ps3 “ATEM” yang tidak pernah sepi akan pengunjung, meskipun saat itu adalah hari senin pukul 7 pagi pun, yang seharusnya mereka upacara, ada saja yang masih di sana. Memegang kendali stik sambil berkonsentrasi pada permainan.
Rabu ini  berjalan seperti biasanya. Seperti yang sudah kubilang tadi. Kelas pertama hari ini adalah fisika. Inilah pelajaran eksak yang paling kusukai, meskipun ini dibenci oleh teman gendutku karena merasa tidak ada gunanya menghitung berapa volume air yang keluar lewat lubang bocor 4mm yang ada di bagian bawah sebuah tangki. Yang kemudian dilanjutkan dengan pelajaran bahasa inggris dan seni. Hey, inilah yang menarik perhatianku untuk bersekolah di sekolah ini. Meskipun kurikulum yang digunakan masih mengikuti kurikulum dinas namun sekolah ini masih mempertahankan pelajaran seni pada setiap kelasnya. Menyisipkannya di jam pelajaran tertentu. Aku mengambil seni musik. Aku suka mendengarkan musik dari yang barat hingga timur meskipun tidak pandai dalam bernyanyi, maka dari itu aku mengambil seni musik. Ada sebuah band barat yang menjadi favoritku. Jika kau ingin tau cari saja original soundtrack film dengan judul unbroken 2014. Nah, itu band favoritku yang juga menjadi favorit seorang teman sekelasku lainnya. Sedangkan teman gendutku mengambil seni lukis, meskipun dia juga tidak pandai melukis. Melihat lukisan sajapun ia tidak suka. Namun mungkin ini bentuk berbaktinya akan orang tuanya. Orang tuanya yang mnenyuruhnya untuk mengambil seni lukis. Dan dia menurutinya tanpa membantah. Setelah kelas seni usai sekolah langsung dibubarkan lebih awal karena para guru mendapatkan undangan untuk menghadiri kampanye presiden di lapangan pancasia. Ah, politik lagi. Aku sebenarnya sudah sangat muak dengan yang namanya politik. Namun kurasa itu hal bagus untukku. Lupakan soal politiknya, aku membahas bagian pulang lebih awalnya. Aku bisa jalan jalan sebentar menikmati siang panas ibukota dengan teman gendutku.
Namu sayang, jalan keluar gerbang sekolah sudah penuh sesak oleh lautan manusia yang mengikuti kampanye calon presiden. Aku dan teman gendutku terpaksa untuk berjalan kaki menembus lautan manusia. Saat aku berusaha menembus lautan manusia yang maniak akan politik saat itu juga calon presiden turun dari sedan hitam merek ternama yang dijaga ketat oleh para pengawal. Mereka kurasa memang telah terlatih untuk mengawal calon presiden. Dari gaya berdirinya, juga pandangan tajam matanya. Dan aku beserta teman gendutku masih berusaha sekuat tenaga menembus lautan manusia yang sepertinya lebih maniak daripada suporter sepakbola.
                                                                        -
Di sisi lain. Yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan oleh siapa saja. Seorang misterius sedang membidik dari vintilasi sebuah hotel di perempatan jalan besar di Ibukota. Lapangan pancasila yang menjadi sasarannya. Kampanye sedang berlangsung. Calon Presiden sedang berjalan melintasi kerumunan dari mobil sedan yang ditumpanginya. Ini adalah saat yang tepat bagi orang-orang yang tidak menyukai calon presiden. Melumpuhkan di puncak kejayaan. Sangat tepat. Maka orang-orang yang tidak suka itu akan datang membawa sniper-sniper bayaran untuk menghabisinya. Benar. Cara yang sangat pengecut. Namun bagaiman lagi. Mereka sudah terlanjur tidak suka. Maka bersiaplah seorang sniper dari sebuah hotel 30 lantai perempatan jalan besar ibukota. persis 800 meter timur lapangan pancasila. Meskipun masih seorang sniper amatiran namun track record nya bagus. 9 berhasil dari 10 sasaran.  Mungkin faktor harga juga yang dipertimbangkan oleh sang pemesan. Dia masih amatir dan masih mengumpulkan banyak jam terbang. Sehingga ia menarik patok harga yang masih relatif murah untuk seorang sniper berkualitas.
Dengan perhitungan yang amat tepat. Membidik dengan penuh konsentrasi. Dari atas kasur berseprei motif bunga-bunga. Memang terkadang sulit untuk memahami seorang sniper yang terkadang memiliki kebiasaan aneh terhadap barang-barang miliknya. Calon presiden sedang berjalan di kerumunan. Ramainya masa membuatnya berjalan sangat lambat, sembari melambaikan tangan kepada orang-orang yang mendukungnya. Ini sangatlah cocok untuk sniper ini. Ramai bukan menjadi masalahnya. Dia sudah terbiasa. Dengan konsentrasi tinggi dia menarik pelan-pelan pelatuknya. Dan. Dor. Peluru dengan kaliber 13mm meluncur dengan kecepatan 500km per jam. Namun naas. Saat peluru itu melintasi udara terbanglah seekor merpati melintas yang kemudian peluru itu yang membawa merpati itu meluncur keras menuju air kolam bagian timur lapangan pancasila. Karena ramainya masa. Kejadian bagian timur lapangan tidak terdengar sampai ke telinga para pengawal. Namun tetap saja calon presiden juga memiliki penjagaan yang tidak terlihat. Tepat setelah merpati itu menghantamkan keras air kolam. Tim penjaga calon presiden mengetahui sesuatu apa yang sedang terjadi. Sekaligus dari mana peluru itu berasal. Dan kemudian mereka langsung meluncur ke tempat yang mereka curigai tentu saja tanpa diketahui oleh sang sniper. “Ah, sial !” umpat sniper tersebut. 2 menit kemudian setelah mengumpat-umpat tidak jelas kepada burung yang tak berdosa tadi dengan mepertimbangkan kecepatan angin dia mulai membidik lagi dan kambali menarik pelatuknya lagi. Dan. Dor. Peluru kembli meluncur dengan kecepatan 500km per jam. Lurus menuju jantung presiden. Tapi. “ Hey...dari mana anak itu datang !!?” umpat sniper itu lagi. Seorang bocah seumuran anak SMA terkapar. Dengan darah membasahi seragam batik birunya. Seragam hari rabu. Kemudian seorang lagi dengan seragam batik yang sama dengan badan gendutnya berusaha membangunkan korban. Dia berteriak-teriak minta tolong. Bukan sang calon presiden. Melainkan seorang pelajar kelas 11 SMA yang menjadi korban kotornya politik saat ini. Tanpa disadari sniper, pintu hotel dibuka paksa. Sniper yang tidak percaya 2 tembakanya telah meleset masih mertapi nasibnya sembari mengluarkan kata-kata kotor tanda kesal. Dan tanpa dia sadari 3 orang telah berada di sekitar ranjangnya. Mengacungkan pistol. Tim penjaga calon presiden bergerak lebih cepat. 2 menit yang dibutuhkan untuk bergerak dari tempat persembunyian menuju sasaran yang dicurigakan.
                                                                        -
Hari itu. Sebuah bukti kembali terjadi akan benar-benar kotornya politik di negeri ini. Memang bukanlah hal yang  aneh jika persaingan tidak sehat terjadi antara orang yang saling berkompetisi. Berkompetisi mendapatkan hati khalayak ramai. Nama baik. Jabatan. Uang. Adalah alasan logis mereka untuk saling menjatuhkan dengan perbuatan kekanak-kanakan mereka. Bukannya berkompetisi dengan prestasi malah memotong dari belakang. Miris.
Namun. Karena  kurusnya tubuhku aku tertinggal oleh teman gendutku. Kami terpaut 3 orang. Aku masih berusaha melewati masa saat keramaian terjadi di depanku. Tempat dimana teman gendutku berada. Karena panik akan terjadi apa-apa dengan teman gendutku aku berusaha dengan sekuat tenaga melewati masa yang kemudian mulai berteriak-teriak histeris kaget karena adanya tembakan menuju arah mereka sekaligus takut akan datangya tembakan susulan yang kemudian mempersulit jalanku. Sesampaiya di tempat aku melihat seorang temanku. Teman sekelasku terkapar dengan peluru tepat di jantung. Disampingnya teman gendutku terduduk sambil berteriak-teriak minta tolong. Dengan bekas cipratan darah di baju batiknya. Kemudian para pengawal presiden dengan segera mengamankan presiden menuju tempat yang aman. Dan sebagian pengawal yang lain mulai membantu teman gendutku mengangkat temanku yang menjadi korban menuju ambulan yang memang sudah disediakan untuk berjaga-jaga jikalau ada hal-hal yang memang memerlukan pertolongan segera. Setelah keluar dari kerumunan aku mengajak teman gendutku menuju sekolah kembali mencari ketenangan sekaligus kamar mandi untuk membersihkan darah di bajunya. Dia sedikit merasa kaget akan insiden ini. Bagaimana tidak, Kematian menjemput temannya tepat didepan matanya. Hanya 10 senti darinya. Bagaimana kalau itu terjadi kepadaku? pikirnya saat itu. Setelah mendapatkan ketenangan kami kami berjalan menuju motor di parkiran C4. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku menyerahkan helm kepadanya. Masih terlihat di wajahnya pucat karena kaget. Aku pun menjalankan motor melewati gerbang sekolah yang sudah berngsur-angsur sepi. Menyisakan berbagai perabot jalan yang rusak akibat ricuhnya masa yang panik. Bukan hanya menyisakan luka fisik, namun juga luka moral di jiwa perpolitikan kita saat ini. Bagaiman tidak, kampanye yang sebelumnya diadakan di kota-kota lainnya berjalan lancar tapi tidak untuk disini. Meski memang calon presiden gagal dilumpuhkan ini sudah cukup untuk menjadi peringatan bahwa nyawa manusia haruslah dihargai.
Kematian. Perih memang. Tapi itu akan terus terjadi, tanpa henti. Kematian mengingatkanku akan 3 hal. pertama, bahwa tidak ada yang abadi di alam semesta ini kecuali Allah SWT. kedua, benarlah apa yang dikatakan pepatah, kehidupan selalu saja seperti ini, laksana sebuah roda. Berputar, berawal dari tanah dan berakhir di tanah pula. ketiga, di dunia amal tanpa hisab, dan di akhirat hisab tanpa amal, dan keduanya dipisahkan oleh yang namanya kematian. Teman sekelasku yang masih mengikuti pelajaran seni musik tadi siang, kini telah mendahuliku menuju alam baka. Alam misterius yang kita tidak dapat menebak kapan kita akan mengunjunginya. Meskipun prseiden Amerika Serikat sekalipun yang dapat mengendalikan seluruh perokonomian dunia. Kematian datang begitu saja tanpa diundang. Tidak dapat dipercepat, juga tidak dapat diperlambat. Semua sesuai skenario Sang Maha Pencipta, Sang Maha Abadi, Sang Maha mematikan dan menghidupkan. Sejak hari itu aku belajar. Tidak ada pertemanan yang abadi, begitu juga persahabatan. Tidak akan ada yang abadi. Dan aku juga mulai berpikir bahwa kedekatanku dengan teman gendutku mungkin bisa berakhir lebih cepat atau bahkan baru akan berakhir hingga kami tua. Tidak ada yang tahu. Karena kita hanya bisa mempersiapkan dengan baik. Agar saat kita meninggalkan dunia fana ini kita membawa bekal yang yang memang sangat berguna saat itu. Takwa dan amal kebajikan.
Sore ini berjalan seperti biasa. Layaknya rabu sore minggu ketiga di setiap bulannya. Hanya saja suasananya terasa berbeda. Setelah aku mengantarkan teman gendutku menuju rumahnya, sekaligus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada ibunya, aku pamit pulang. Bilang ada yang harus kuselesaikan di rumah sehingga aku tidak dapat berlama-lama di rumah teman gendutku. Hari itu aku mendapati bahwa hidup kita akan dipertangungjawabkan di hadapan Allah SWT nantinya. Maka pastikan kita bisa mempertangungjwabkannya dengan baik.
-Hidup memang selalu begitu, bertemu seorang yang baru, menjadi bagian di dalamnya dan kemudian waktu yang akan memisahkan kebersamaan itu. Dengan cara yang amat bijak tentunya-

Komentar

Postingan Populer