Hilangkan Dia Jangan


Tentang kehidupan berpesantren. Ada suka, duka dan yang aneh pun ada. Ini dia 'Hilangkan dia Jangan'
12 Juli 2016, aku mulai tinggal di sekolah baruku. Sekolah agama berbasis pondok pesantren di kotaku. Ini bukanlah pengalaman pertamaku mengenyam pendidikan berbasis pondok pesantren. Di jenjang sebelumnya aku juga sudah merasakan kerasnya kasur pondok pesantren. Jadi dengan mudah aku bisa beradaptasi dengan lingkungan serta teman-teman baruku. Ini merupakan jenjang pendidikan terakhir yang harus kutempuh sebelum aku menginjak bangku perkuliahan yang pastinya sangat berbeda. Jadi aku harus mempersiapkan dengan sematang-matangnya agar kelak aku bisa berkuliah di kampus agama terbaik di negaraku. Dan kemudian menjadi kiai, pendiri pondok pesantren atau bahkan mentri agama di negaraku.
Seminggu pertama aku mulai berkenalan dengan teman-teman seangkatanku. Meski hanya berjumlah 41, namun bukanlah perkara mudah untuk menghafal nama-nama mereka yang rumitnya minta ampun karena  berasal dari serapan bahasa-bahasa asing.  Aku mulai menyesuaikan diriku dengan ritme pondok pesantren yang kurasa berbeda dengan pondokku yang dulu. Begitu pula teman-temanku yang di jenjang sebelumnya belum pernah mengenyam pendidikan pondok pesantren. Jadi disini kurasa aku patut bersyukur akan pengalaman yang aku miliki. Minggu kedua aku mulai berkenalan dengan kakak kelas. Terus begitu selama sebulan sampai akhirnya aku menyerah untuk menghafal nama seluruh santri di pondok ini. Karena kurasa santri di pondok ini sudah melebihi daya tampung.
Semuanya terus berjalan lancar hingga tidak terasa aku seudah memasuki semester kedua di tahun pertamaku. Pelajaran fiqh, usul fiqh, akhlak, hadits, tafsir, nahwu, shorof, tauhid, fiqh dakwah, kitaabah, khot, bahasa arab kulalui dengan amat lancar. Kecuali satu mata pelajaran yang cukup menyulitkanku. Faraidh. Pelajaran yang mempelajari warisan. Bahasa sederhananya matematika dalam bahasa arab. Yang nilaiku sering kali jatuh di bawah KKM.
Enam bulan berlalu lagi. Kini aku sudah duduk dikelas dua. Pelajaran semakin berat. Selain itu aku juga mendapat amanah untuk menjadi penanggung jawab bidang humas di organisasi santri pondok pesantrenku. Beberapa bulan yang lalu kakak kelasku tertangkap basah sedang jajan sembarangan di warung ujung jalan. Ya, pondok ku yang sekarang bukanlah seperti pondokku yang dulu. Di sini jika ada santri ketahuan sedang jajan sembarangan, akan langsung ditindak dengan SP1. Bahkan kalau sudah keterlaluan akan di beri sanksi drop out. Dan yang menjadi khas di tahun ajaran baru adalah, datangnya santri baru.
Adik tingkatku kelas 1 berjumlah sekitar 100 santri. Berbeda cukup signifikan dengan jumlahku bersama teman-temanku. Ya, mereka nampak seperti kami, datang dari berbagai penjuru jawa bahkan ada yang datang dari pulau tetangga, sumatra. Dari seratus santri baru, ada 1 yang seringkali menjadi pusat perhatian dan topik pembicaraan di kalangan santri termasuk pembicaraan diantara aku dengan teman-temanku. Dia berbeda. Meski dari fisik terlihat sama, tapi ada hal lang yang membuatnya berbeda. Bukan karena kecerdasannya atau karena bodohnya dia. Namun lebih karena dia istimewa. Dia bisa melihat apa yang tidak seharusnya tidak terlihat. Ya, ini sering dinamakan indigo.
Dia seringkali terlihat aneh saat bermain dengan teman-temannya. Dia lebih sedikit berbicara. Dengan rambut yang agak keriting ditambah kacamatanya yang terlihat kebesaran dia seringkali menyendiri di pojok masjid. Aku tidak banyak tahu tentangnya. Hanya saja ustadz pernah berbicara tentangnya kepada kami kelas 2 saat ruqyah massal.
Suatu malam ada salah satu temanku yang mengajakanya ke asrama kami. Kemudian dia diberi pertanyaan yang aneh-aneh. Dan diapun menjawab.“ Mas disana ada mas, pojok itu ada 3 keluarga totalnya 43. Kalo disana ada 1 mas dia nunggu di topeng itu. Kalau sama topeng-topeng kayak gitu dia malah seneng mas. Jadi betah dia di sana“ . Langsung hal itu membuat kami panik. Beberapa ada yang lebih memilih kabur meninggalkan kamar. Konon katana di juga sering di undang oleh santri-santri lain untuk mengunjungi asramanya. Meski hany untuk mencari sensasi. Aku tidak begitu tahu apakah di benar-benar indigo atau pura-pura saja. Tapi selebihnya aku ingin sekali bertemu dan mengobrol dengannya. Tapi aku tidak pernah sempat. Hampir saja aku mendekatinya, mengajaknya bicara namun karena aku mungkin terlalu ketakutan, tiba-tiba aku malah lari menjauhinya. Aneh memang. Seorang kakakkelas lari ketika beremu adik kelasnya. Tapi apa daya, itu benar terjadi. Ada seorang santri indigo yang menggemparkan seluruh isi pondok. Tidak ada hari tanpa membicarakannya
Beberapa kali saat malam aku mendapatinya sedang sendirian dipojok lapangan atau tengah lapangan. Tapi aku masih takut-takut menegurnya. Dan saatnya pun tiba. Malam itu malam minggu pukul 23.46 aku terjaga karena aku kebelet buang air kecil. Sepulang dari kamar mandi lantai 2. Aku menemukannya sedang jongkok di lapangan. Sendirian. Di tengah sorot lampu lapangan yang temaram. Entah aku menemukan keberanian dari mana. Aku tiba-tiba  memberanikan diri untuk menegurnya. Aku mengambil botol bekas dari samping tempat sampah. Kemudian mencoba menimpuknya dengan botol itu. Setelah aku melempar aku tidak tahu apakah mengenainya atau tidak tiba-tiba aku tidak sadarkan diri. Gelap. Pingsan.
Aku sudah diruang UKP unit kesehatan pesantren. Atau mungkin lebih baik disebut mini hospital. Karena aku rasa UKP ini lebih dari lengkap untuk sekelas UKS atau UKP di tempatlainnya. Maklum, tidaklah murah untuk dapat menimba ilmu dipondok ini. Orang tua harus benar-benar siap sebelum anaknya di sekolahkan di pondok ini. Aku bangun dengan teman-temanku di sekitarku. Mereka bilang menemukanku tertidur di tangga depan kamar mandi. Setelah kemudian berangsur-angsur, aku tersadar bahwa anak misterius itu sudah hilang.
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri bertanya kepada teman sekamarku tentang kemana perginya anak misterius itu. Namun jawaban yang kuterima sangat mengejutkanku.
            “ Anak yang mana? Kamu mengada-ada aja. Setelah pingsan kamu jadi aneh ya“. Itulah jawaban temanku ketika kutanya demikian. Hal ini membuatku semakin penasaran. Maka akupun bertanya kepada para ustadz. Namun jawaban yang diberikan oleh ustadz masih sama seperti yang dikatakan teman sekamarku. Maka aku pun langsug terjun mencari daftar absen kelas. Dan apa yang terjadi? Kutemukan namanya disana! Aku semakin keheranan. Maka dengan bermodalkan absen kelas yang kudapat tadi, aku mendatangi ustadz yang menjadi wali kelas anak misterius itu. Maka apa jawaban yang kudapat setelah bertanya.
            “ Eh, kok saya baru tau ya ada santri yang ini. Apa murid pindahan ya?” Ustadz wali kelas memandang santai seakan-akan memang tidak ada anak misterius itu di kelasnya. Dan mungkin berpikiran bahwa ada santri lain yang iseng menambahkan nama baru dalam daftar absen kelas.
            Belum puas, aku mencoba mencari-cari asramanya. Dan aku menemukannya. Ada lemari yang berlabelkan nama anak misterius itu.
            “ Kami tidak tahu kak, kayaknya ga ada santri itu di asrama ini”. Aku semakin keheranan. Dimana anak misterius itu?. Dan kenapa orang-orang tidak mengenalnya. Bahkan walaupun sudah ada bukti jelas dari absen kelas dan barang-barang miliknya. Seakan-akan semua orang melupakannya begitu saja, setelah pernah mengenalnya. Kecuali aku. Dan akulah yang selanjutnya.

Komentar

Postingan Populer