SENJA


Aku berlari. Nafasku terengah engah. Suara langkah kaki semakin kencang terdengar. Aku semakin mempercepat lari. Suara teriakan teriakan murka terdengar bergema. Rasa takut yang sangat mencengkeram hatiku. Mendadak sentakan keras dari belakang membuatku limbung dan terguling.
Serta merta, tangan kasar mencengkram kerah bajuku dan berusaha menarikku bangkit. Aku meronta sekuat tenaga, berteriak keras.
“ hei ! ini aku !”
Suara itu membungkam mulutku, menghentikan gerakan perlawanan.
“ Yudhi ?”
Yudhi mengangguk cepat ,menyeret tanganku ke dalam sebuah gang kecil pinggir jalan, aku mengikuti tertatih tatih di belakangnya. Dia menyentakku masuk dan langsung berdiri di sebelahku, mengawasi jalan. “ apa yang terjadi ?”
Matanya masih menatap jalanan, aku tak menjawab. “ aku melihatmu lari terbirit birit dari gang tempat kita yang biasa. Kupikir kamu dikejar polisi. Lalu kudengar teriakan teriakan keras di belakangmu, bukan dari mereka. Ini beda. Tanpa pikir panjang aku langsung melempar kartu dan mengejarmu.” dia terdiam sejenak. “jadi, mau memberitahuku ?”
Tak ada jawaban. Yudhi menelengkan kepalanya. “ Oren ?”
“ Yudhi.. aku…”suaraku gemetar, intonasinya terdengar asing.
Demi mendengar nada yang tak biasa itu, Yudhi menolehkan kepalanya kepadaku. Alisnya berkerut. Kutundukkan kepala. Badanku menggigil hebat.
“ Kenap…” nafasnya terkesiap ketika tiba tiba aku mencengkram lengan atasnya keras, menatapnya dengan mata yang mungkin terlihat tak waras.
“ Yudhi, aku sudah bunuh orang.”

                                                                        ***
17 hari sebelumnya.
“ jadi sekarang kamu udah yakin Ren ? “
Aku mengangguk. Mataku masih tertancap ke kumpulan kartu di tanganku.
“ sumpah ? yah… aku tau sih hubungan sama keluargamu gimana, tapi, masak mereka tega anaknya tinggal sama orang orang udik kayak kita ? “
Aku membanting 1 kartu di tanganku ke kumpulan kartu di tengah. Kutatap mata orang yang berbicara itu. “ sejak kapan kamu peduli sama statusmu Dra ? orang orang udik ? hahaha, ngaku juga akhirnya. “
Hendra melipat mukanya. Masam . “ sialan “
Aku terkekeh keras. Kujepit rokok yang menggantung di bibirku, kutekan keras ke pinggir dipan bambu yang kududuki. Mematikannya .
“ yahh… lagian, apa mereka tu peduli sama anaknya ? boro boro tega pa enggak, tau anaknya dimana aja kayaknya gak mungkin . “
Kurasakan tatapan 4 orang di sekelilingku. Aku tau mereka sekarang sedang menatapku dengan ekspresi berbagai rupa. Tapi yang dominan mungkin… kasihan ?
“ gak usah sok peduli “ tatapanku masih tertancap pada kartu yang kupegang ketika mengucapkannya. Dari sudut mata, kulihat mereka semua langsung salah tingkah.
“ Terus mulai kapan kamu ikut kita kita ? “
Aku menggaruk dagu mendengar pertanyaaan Awang. Berpikir. “ emm… nanti malem  ? “
Digetoknya kepalaku dengan gulungan koran di sampingnya. “gundulmu ! malem ini ? heh ! yo tau aku kalo kamu tuh cowok, merasa bebas ngelakuin sesuatu ! tapi ya pikir dulu resikonya ! gimana nanti kalo para penjagamu itu dateng ? bonyok kita kita ! mereka gak pake tanya tanya dulu lagi , langsung main hajar aja “ Awang misuh misuh. Aku mengelus kepalaku. Cemberut.
“ iya iya ! sorry deh buat yang waktu itu ! aku juga gak tau kali !”
Awang masih menatap kartunya dengan cemberut. Memang sih, yang waktu itu kena pukulan paling banyak itu si Awang. Wajarlah dia marah marah.
“ udahlah wang.. “ Dodo menepuk nepuk pundak Awang simpati, bibirnya yang menghitam terkena nikotin, nyengir kecil. “ si Oren kan gak sengaja, dia malah gak tau apa apa. Waktu itu si Oren juga gak luput dari jotosan bodyguardnya kok, jadi sama sama lah.. “
Awang melirikku yang menatapnya dengan pandangan memelas. Di helanya nafas panjang panjang sambil membanting 1 kartu di tengah tumpukan dengan kesal.
“iya ya ! kumaafkan ! tapi nanti nanti kalo bikin keputusan, liat liat situasi dulu, tauk ??!! “
Aku mengangguk angguk cepat, mengiyakan perkatan Awang segera. Yudhi menatap kami bolak balik.
“ udah kan ? ayo lanjut “
                                                                        ***
Aku mengendap masuk ke rumah, melewati ruang tamu yang besarnya setara dengan lapangan futsal berlantaikan marmer.
Jauh di dalam rumah, kudengar teriakan teriakan penuh emosi disertai suara barang barang yang dibanting. Aku mempercepat langkah ke tangga, menuju kamar. Aku tak mau terlibat dalam keributan itu. Lebih tepatnya, aku tak mau tau.
Baru saja aku menaruh tas di pinggir kasur, mulai bernafas dengan lega. Tiba tiba, pintu kamarku digebrak seseorang dengan keras.
“ KAU !! baru pulang hah ?! “
Aku terlonjak, membalikkan badan. Disana, berdiri seorang lelaki bermata merah dan bernafaskan alkohol. Menatapku dengan tatapan berang yang tidak manusiawi.
“ dasar anak gak tau diuntung ! anak pelacur ! pantes aja kelakuan kayak setan ! udah diasuh asuh, disayang sayang, balesannya malah jadi anak kurang ajar, setan kamu ! “ teriaknya keras, tanganya yang memegang botol minuman keras, teracung ke arahku.
“ Ayah, Ayah mabuk “ sahutku tenang. “ gak usah ngomong macem macem, Ayah mending ke kamar aja, banting barang barang disana. Barang itu gak bakalan ngelawan kok, tenang aja”
Mendengar jawabanku, nafas laki laki itu makin memburu. Tanganya bergetar tak terkendali. Langkahnya terhuyung ke arahku. Aku bergeming.
“ apa ? apa ?? APA KAMU BILANG ??!!!  anak kurang ajar ! Ibunya aja udah gak bener ! pelacur ! anaknya tambah parah ! bodoh ! SINI !! BIAR KUBERI PELAJARAN KAMU ANAK HARAM !!!! “
Dia mengangkat botolnya tinggi, hendak menghajarku. Aku berkelit, dia menabrak kasur. Berteriak frustasi. Botolnya pecah berkeping keping menghantam lantai.
Aku berusah melarikan diri ke pintu. Namun, tangan lelaki itu merenggutku dari belakang, membantingku keras ke lantai.
“ ANAK KURANG AJAR !! “ dia mengunci tanganku kuat. Aku bergeliat geliut berusaha melepaskan diri. “ mau lari hah ?! gak berbakti sama orang tua ! kamu harusnya terima aja jadi pelampiasan ! karna semua itu salahmu ! “ ludahnya memercik tepat ke mukaku. Tubuhnya menduduki tubuhku, menguncinya erat.
Aku memalingkan wajah.
“ bau “
Matanya mendelik. “ Aapaa ??” geramnya.
“ mulut Ayah bau “ kutatap matanya benci. “ kurang jelas ? MULUTMU BAU TUKANG MABUK !!! dengar ! jangan coba coba menyalahkan Ibu dan aku karena kesalahanmu sendiri ! ayah gak berguna !!! “ teriakku keras.
Dia bergetar hebat. Rasa marah jelas terpancar dari wajahnya. Dengan pekikan parau, dia mulai menghajar mukaku. Aku meronta berusaha melepaskan diri. Jeritanku bercampur dengan teriakannya.
Dengan sekuat tenaga, aku membenturkan kepalaku ke wajahnya. BUAKK !!.
Tubuhnya doyong ke belakang, kunciannya melemah. Memanfaatkan momentum ini, aku mendorong tubuhnya kuat kuat. Berhasil, dia terlepas dari tubuhku.
Setelah lepas dari kuncian, aku berusaha berdiri. Belum sempat berdiri tegak, tangan Ayah dari belakang mendorong tubuhku ke depan. Aku tersukur. Namun dengan cepat, aku berusaha beringsut membalik badan.
Melihatku berusaha bangkit, Ayah langsung berlari sempoyongan menghampiriku sambil memasang tinjunya. Aku menangkis tinju yang mau mendarat dan balik meninjunya. Kena telak. Terimakasih atas latihannya selama ini Ayah. Huh.
Kami bertarung sengit. Ayah selalu mengeluarkan sumpah serapah tiap kali melayangkan pukulan. Aku dengan susah payah menahan serangan yang makin lama makin sering datang. Untungnya serangan serangan itu tak terlalu akurat. Saat aku sedang sibuk menahan tangan Ayah yang satu, tanpa kusadari, tangannya yang lain telah menggenggam pecahan beling bekas botol alkohol. Terlambat bagiku untuk menyadarinya.
Mendadak, rasa nyeri yang amat sangat menyetrum perutku, rasa sakitnya merambat sampai kepala. Mataku berkunang kunang.
Dengan sisa tenaga, aku memukul wajah Ayah keras keras dan tertatih tatih berlari keluar. Di belakangku terdengar raungan kesakitan disertai amarah yang sangat.
Aku buru buru mempercepat lari, keluar dari rumah. Meskipun rasa sakit hampir melumpuhkanku, mengacaukan otakku, aku tetap tertatih tatih pergi. Aku tak tau kakiku berlari kemana. Hanya kemudian, kulihat lampu di depan sebuah rumah. Kusadari, bahwa aku mengenali rumah itu., dan kakiku membawaku ke ambang pintunya.
Saat jarakku dengan pintu rumah sudah dekat. Aku berusaha menggerapai dan membukanya. Dari dalam, terdengar suara terkejut dan satu sosok buru buru berjalan ke arahku.
“ Oren ? hei ? kenapa kamu ?? pucet banget ! “ dia memegang lengan atasku. Matanya menyapu seluruh badanku dengan raut cemas. Begitu pandangannya mencapai perut , matanya membelalak. “ Ren ! perutmu ! berdarah ! “
Mataku mulai menggelap. Kakiku terasa goyah.  “ Yudhi… aku.. “ belum selesai kalimatku, kurasakan diriku jatuh. Badanku ditangkap oleh Yudhi dengan pekik tertahan.
Lalu semuanya gelap.
                                                                        ***
Samar samar aku mendengar percakapan timbul tenggelam. Kesadaranku melayang layang.. Nyata dan tidak.
“apa mungkin..” suara yang bergumam lirih. “ ini karena keluarganya ?” senyap kembali. Suara kursi bergeser.
“entahlah, kalaupun iya, ini sudah keterlaluan. Mentang mentang salah satu pengusaha terbesar di negeri ini, bisa seenaknya menyakiti orang lain. Apalagi yang disakiti itu anaknya sendiri. “ suara itu terdiam, nadanya barusan terdengar berang. “ kita harus menuntutnya. Ini sudah tindak pidana serius. “
“ sabar Yud, jangan tebawa emosi “
Suara gesekan kursi yang disentak keras. “ gimana aku gak kebawa emosi ?! perutnya ditikam Dra ! pake beling lagi ! ini udah percobaan pembunuhan namanya !! “
“ iya ! aku tau… tapi, pertanyaan pertama, apa polisi percaya pada kita ? “
Terdengar suara hempasan. Geraman kesal.
“ kita ini cuman orang orang kecil Yud. Gak berguna. Sampah masyarakat. Mana mungkin polisi percaya ? lebih mungkin, polisi malah menuduh kita sebagai tersangka. Kalaupun kita punya bukti kuat, dengan kekuasaannya, dia bisa membalikkan fakta. Sadar Yud, dia musuh yang kuat. Jangan sembarangan menghadapinya, nanti kita semua celaka, termasuk Oren “
Suasana kembali sunyi. Atmosfirnya terasa mendung.
Aku yang mendengarkan samar, berusaha mengumpulkan kesadaran. Jariku bergerak pelan.
“ hei ! lihat ! jarinya bergerak !”
Suasana langsung ramai. Semua orang berbicara bersamaan. Aku perlahan membuka mata. Yang pertama kulihat adalah wajah lega Yudhi, diikuti oleh wajah Hendra dan Awang. Aku mengerjabkan mata, berusaha memperjelas fokus. Tubuhku terasa lemah dan sakit di mana mana. Aku mengitarkan pandangan, Dimana aku ?
Yudhi membaca pikiranku. “ kamu di rumah sakit. Aku yang bayar biayanya. “
Aku mengalihkan tatapan kearahnya. Mataku masih terasa berat, mungkin bengkak karena pukulan. Kutatap dirinya lama.
Yudhi tersenyum.
“ selamat datang, cepatlah sembuh. Dan yang terpenting, jangan khawatirkan apa apa. “
Aku mengerjab. Kupikirkan kata kata itu. Mungkinkah ?
                                                                        ***
Hari ini yang menungguku hanya Yudhi. Tadi teman teman tak ada yang bisa menemani, tapi mereka berjanji akan menjenguk. Aku sempat tersentuh dengan perhatian mereka. Rasanya seperti mempunyai keluarga. Ada yang memperhatikan.
Yudhi sedang membaca salah satu koran yang disediakan rumah sakit. Melihatnya, mendadak, aku merasakan keinginan kuat untuk menceritakan masalahku padanya.
“ Yudhi.. “ panggilku.
Dia mendongak. “ apa ? “
Kutatap dia. Tapi, tiba tiba keinginanku untuk bercerita kembali ciut. Aku tak ingin pemilik wajah itu kembali repot karenaku. Aku mengurungkan niat.  “ enggak, gak papa.. “ kualihkan pandangan. Dia mengernyitkan alis.  Kami terdiam.
“ kalo mau cerita, gak usah ragu ragu. Gak usah bimbang, cerita aja. Meskipun aku gak yakin bisa bantu, tapi paling gak, bisa meringankan bebanmu. “
Aku tersentak, kutolehkan kepala kearahnya. Dia masih memasang muka datarnya, mengangkat bahu.
“ lagian aku kan lebih tua 2 tahun dari kamu. Kamu bisa menganggapku kakak. “ dia terdiam, menatapku dengan sorot mata yang hangat. “ karena aku udah anggep kamu adikku. “
Mendengarnya, hatiku menghangat. Keraguan itu sirna. Dengan yakin aku mulai menceritakan semuanya. Yudhi tercenung mendengarnya.
“ semua itu jadi makanan sehari hari. “ aku menghela nafas samar.
“ Ibumu ? gimana ? ”
Aku tersenyum kecut. “ Ibu sama saja. Karna kelakuan Ayah yang begitu. Ibu juga ikut stress. Dan sama, beliau melampiaskannya padaku. “ aku terdiam. “ terkadang dia memojokkanku di dapur dan melempariku dengan barang barang yang ada di dekatnya, bahkan kalaupun itu pisau. Tetap dilemparnya.” Aku mendengar suara terkesiap. Tapi aku belum selesai. “ terkadang, dia menyudutkan rokok yang masih menyala ke tubuhku. Aku tak bisa melawan, aku tak bisa memukulnya, karna dia seorang perempuan dan terlebih lagi Ibuku. Aku cuma bisa berteriak teriak memintanya agar berhenti. “ tatapanku menerAwang. “ karna kelakuan Ayah yang tak tentu. Ibu juga ikut tertekan. Kehidupanku yang dulu saja tak bisa dibilang harmonis, makin kacau dibuatnya…. “ aku terdiam. Tercenung lama.
“ Ren ”
“ hmm…? “
“ kamu mau tinggal bareng aku ? “
Aku menoleh cepat, mengerutkan dahi. Dia menggaruk garuk rambutnya.
“ emang kos kosanku ga terlalu besar. Tapi, 2 orang muat lah. Nanti kamu bantuin aku cari uang. Jadi biaya hidup ditanggung bersama. Gimana ? ”
Aku menatapnya tak berkedip. Kuamati dia.
Karena di rumah sakit ini dilarang merokok, dia tidak membawa rokoknya. Tapi, aku tau dia perokok berat. Omongannya juga sering kasar, pembawaanya pun bengal. Sekali lihat, kita akan tau kalau dia itu termasuk orang orang yang dianggap sampah masyarakat.
Tapi, dia satu satunya orang yang peduli denganku. Memperlakukanku layaknya manusia. Jadi, tanpa ragu, aku menganggukkan kepala.
Yudhi menatapku tak percaya. “ beneran mau ?? gak bohong ? “
Aku tertawa. “ ngapain bohong ? aku beneran, ini yakin seratus persen. “ aku menggelengkan kepala, berlagak seakan aku tak habis pikir. “ kemarin, aku mengajukan diri biar bisa tinggal sama salah satu dari kalian, kalian malah nolak. Sekarang, ini malah ada yang terang terangan nawarin. Hahaha…. Lucu deh “
Yudhi melotot. Aku tertawa makin keras. Mukanya makin masam. Namun ekspresi itu tak bertahan lama. Perlahan, senyumnya mengembang. Ikut tertawa kecil bersamaku.
Tuhan… terima kaih. Kau beri aku malaikat hari ini….
                                                                        ***
Beberapa hari kuhabiskan dengan resmi menjadi penghuni kos Yudhi. Tinggal disana tak bisa dikatakan mudah, sulit malah. Namun, bukan kemudahan hidup yang kucari, tapi rasa tenang dan bahagia. Aku menghabiskan waktuku dengan berkerja serabutan. Entah membantu pedagang di pasar, menjaga toko, menyapu jalan, loper koran bahkan juga mengamen. Ohya, Yudhi melarangku untuk mengemis dan tentu saja, dengan senang hati kuturuti. Tak ada rasa sungkan. Malah, yang ada adalah puas karena aku dapat menghasilkan uang dari hasil  keringatku sendiri. Semua terasa sempurna.
Hingga, suatu kali, saat aku sedang menjaga toko, televisi yang kutonton menyiarkan wawancara live dengan Ayahku. Serta merta, perhatianku dibetot olehnya. Dari acara  itu, aku tau jika Ayah telah menikah lagi. Para wartawan menanyakan keputusannya. Dengan wajah arif, dia menyebutkan alasan alasan yang terlihat begitu mulia dan masuk akal dengan cerdas, sehingga membuat para wartawan mau tak mau mengangguk memaklumi dan menyetujuinya.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Dia benar benar bermuka dua. Di khalayak ramai, sifatnya bagaikan malaikat, sampai sampai media menjulukinya ‘Miliyader Baik Hati’. Masyarakat memuji mujinya. Keluarganya harmonis. Putranya tampan, pintar, membanggakan. Istrinya cantik, lemah lembut, menakjubkan. Hidupnya makmur, damai, dan sejahtera.
Setidaknya itulah yang terlihat di layar kaca.
Nyatanya ? . Semua cuma topeng, topeng untuk menyembunyikan betapa bobrok dan busuknya dia.
Setelah berbasa basi membahas masalah ekonomi. Salah satu wartawan menanyakan keadaanku. Ayah terdiam. “ dia baik baik saja “ jawabnya setelah sekian lama. wartawan itu mengernyitkan dahi, terlihat tidak puas.
“ anda yakin Pak Mahes ? beberapa hari yang lalu, salah satu rekan saya bercerita bahwa dia melihat anak yang mirip dengan Oren Maheswara di pinggir jalan, sedang mengamen. “ wartawan itu terdiam sejenak, menyelidik. “ anda yakin itu bukan Oren ? katanya ciri cirinya mirip sekali “
Ayah menunjukkan wajah geli yang ‘ bersahabat’. Dia melambaikan tangannyya.
“ tidak ,tidak… itu pasti salah lihat… pasti. Oren sekarang sedang menerima pelatihan instigitif di suatu tempat. Dia tak akan bisa berkeliaran bebas. Lagipula, saya punya Rencana untuknya, Rencana yang pasti akan disukainya. “ Ayah tersenyum.
wartawan itu manggut manggut mengerti lalu mengajukan pertanyaan lain.
Aku sudah tidak mendengar kelanjutan siaran. Aku terpaku. Badanku menggigil. Dari cara Ayah mengucapkannya, disertai senyum aneh yang terukir di bibirnya saat mengucapkan kalimat itu membuatku merinding. Senyum itu mirip senyum dari seorang algojo yang akan menghabisi tawanannya. Senyum senang yang mengerikan.
Seketika aku tau.
Aku dalam masalah.
                                                                        ***
Malam ini aku menyelinap ke kediamanku sebelumnya. Aku tau kalau aku sedang masuk mulut buaya. Tapi, mau bagaimana lagi ? aku membutuhkan semua barang barang yang kupunyai, untuk membiayai pelarianku, karna aku berniat kabur dari kota ini. Jadi, dengan memberanikan diri, aku bertandang ke rumah terkutuk ini.
Saat aku sedang berusaha memasukkan jam tangan jam tanganku ke dalam tas. Tiba tiba, lampu kamarku menyala. Sontak, aku menjatuhkan tas yang kupegang dan membalik badan dengan cepat.
“wah wah… ada pencuri rupanya… “ Ayah, dia berdiri di ambang pintu. Aku menggertakkan gigi.
“kenapa ? aku dilarang mencuri di rumah sendiri ? lagipula, ini punyaku. ”
Mata Ayah berkilat. Kilatnya terlihat berbahaya.
“ ya kalau kau masih keluarga Maheswara, ya kalau kau tidak kupecat dari anggota keluarga. Kalau sudah begitu, bukankah itu namanya ‘pencurian yang patut dihukum’ ? ”
Aku terkesiap. Ayah menyeringai. Di belakangnya, tiba tiba muncul 2 pria berbadan kekar. Satu persatu mulai masuk ke dalam kamar. Aku melirik lirik dengan panik.
“ tenang saja, aku cuma mau menangkapmu. Lalu menyerahkannya ke polisi dengan tuduhan pencurian. Ini bisa jadi skandal yang bagus untuk meningkatkan popularitasku.” Ayah mengetuk ketuk dagunya. “barangkali, nanti judul beritanya adalah ‘Anak Seorang Miliyader Yang Terkenal Baik Hati, Mencuri di Rumahnya ’ bagaimana menurutmu ? bagus kan ? ”
Aku bergeming, senyum sinis terukir di bibirku.
“Ayah yakin ? bukannya judulnya nanti akan jadi ‘ Miliyader Yang Dibilang Baik Hati, Ternyata Seorang Psikopat Tulen.’ Begitu ? ”
Ayah melotot. “ apaa ??”
“aku akan membocorkan semuanya pada polisi. Soal kelakuan Ayah saat bisnis. Saat di belakang televisi dan soal kelakuan Ayah, pada anaknya sendiri” Aku mengangkat dagu. “aku punya bukti yang cukup untuk membuktikannya”
Sejujurnya, aku takut setengah mati mengungkapkan ini, menantangnya. Karna pria di hadapanku ini sudah gila. Aku tak tau apa yang akan dilakukannya nanti.
Mukanya memerah. Nafanya putus putus. Dia mengangkat  tangannya, menggeram padaku. “ dasar anak tak tau diri. Kau sudah tak kubutuhkan lagi. Kesabaranku sudah habis. Silahkan pergi dari dunia ini.” Diayunkannya tangan.
Serentak, 2 pria itu menyerangku. Aku berusaha berkelit dari serangannya. Dengan taktik yang sudah kurencanakan, kulemparkan apa saja agar mereka teralih, sesekali menyarangkan tinju dan tendangan diantara lemparan itu. Berhasil. Dengan susah payah, aku berhasil mencapai pintu dan mendorong Ayah yang berdiri terperangah melihatku.
Aku berusaha lari secepat mungkin ke tangga. Namun tiba tiba, dari belakang, ada yang menabrak dan menggencetku ke dinding. Aku memberontak. Tak bisa. Terlalu kuat.
“kamu harus lenyap Oren. Supaya Ayah bisa menjalankan bisnis dan semua urusan Ayah dengan mulus. Jika kamu mengancam seperti tadi, mana mungkin bisa kan tetap mulus ?. maka dari itu kamu harus hilang. Lagipula, kau sudah tidak kuanggap anak. Tidak akan ada penyesalan dalam diriku.” Nafasnya membuatku merinding. Mendengar kata katanya, seperti ada sesuatu di dadaku yang meletup. Dia benar benar GILA. “nah, bagaimana kalau aku mencekikmu sekarang ?”
Aku meraung. Rasa takut bercampur rasa yang tadi meletup didadaku, amarah, menciptakan ledakan energi yang luar biasa. Aku melentingkan tubuh ke belakang, alhasil membuatnya terlempar. Kucengkeram kerah bajunya dan menghantamkannya ke dinding. Lalu dengan sekuat tenaga, aku mendorongnya ke tangga. Terdengar teriakan lalu suara benda keras yang terhantam dengan kuat. Sesaat semua terasa membeku.
Saat aku sadar akan apa yang kulakukan. Aku menggigil hebat. Disana, di anak tangga paling bawah. Terbaring tubuh Ayah tak bergerak. Wajahnya menghadap ke atas, matanya terbuka dengan pandangan kosong. Darah mengucur dari batok kepalanya yang pecah. Lehernya bengkok dengan cara yang tak wajar.
Samar samar, kudengar teriakan seorang wanita. Lalu suara yang sarat akan amarah, menyuruh untuk menangkapku. Samar samar, aku merasa berlari tanpa kaki. MengAwang. Rasa hampa dan takut meremas kuat kuat hatiku. Suatu pikiran terus menerus menggema dalam benakku.
Aku sudah membunuh Ayahku.

                                                                        ***

Kutatap lembah hijau di balik kaca. Badanku berguncang teratur seiring laju kereta. Aku menghela nafas samar.
Hidupku bagai permainan sekarang. Sejak ditentukannya aku sebagai tersangka utama pembunuh Ayah, hidupku sebagi buronan telah dimulai.
Malam itu, media massa gempar. Berita ‘pembunuhan’ itu menyebar cepat. 2 hari kemudian, Ibu tiriku menggelar konfrensi pers. Dia membeberkan tentang apa yang terjadi malam itu. Ternyata dia yang berteriak. Serta, membeberkan tentang ‘aku’ yang sebenarnya.
Dia membuat seolah aku adalah anak yang tak tau terima kasih dan tega membunuh Ayahnya dengan keji. Masyarakat kisruh. Ternyata anak yang membanggakan itu sebenarnya seorang anak bermasalah, nakal, dan berdarah dingin. Tapi Ayahnya masih menyayanginya serta melindunginya. Dan dia membalas semua kebaikan itu dengan membunuhnya. Semua orang menghujatku.
Aku menempelkan kepalaku ke jendela. Hatiku menjerit pedih. Aku baru 17 tahun. Masa yang seharusnya menyenangkan, penuh dengan basa basi remaja, tentang cinta dan lainnya, harus kuhabiskan sebagai pelarian yang diburu polisi. Padahal, aku melakukan itu secara tidak sengaja.hanya bermaksud membela diri. Siapa yang tau jika akhirnya seperti itu. Aku juga teguncang hebat karenanya.
Aku teringat teman temanku. Sekarang sudah tak mungkin untuk menemui mereka lagi. Aku tak ingin melibatkan mereka, membuat mereka dicurigai. Sudah cukup image buruk soal mereka. Tak perlu ditambahi dengan predikat menyembunyikan buronan. Padahal Yudhi sudah meminjamkan uang untuk membantuku kabur. Dia percaya kalau aku tidak melakukannya dengan sengaja. Di stasiun, saat aku masih berdiri dengan keadaan linglung, dia mencengkram lengan atasku, memaksaku untuk melihat matanya.
“Oren, hidup ini gak mudah. Batas antara benar dan salah itu tipis. Hanya dengan sedikit merubah kata kata, sesuatu yang seharusnya benar bisa berbalik menjadi salah. Bertahanlah Ren.  Kelak, balasan atas keadaan ini akan datang,. tunggulah, dan jalani hidupmu sebaik baiknya. Aku yakin kamu pasti bisa.” Pesannya tergiang giang di telingaku.
Aku menatap kosong. Senja mulai membayang, warna orange dan kuning menghiasi angkasa. Sebagian orang mungkin menganggap senja itu indah,. Tapi tidak bagiku. Bagiku mereka menyedihkan, warna yang menyiratkan kepedihan. Sama seperti namaku. Dan hidup yang kujalani.
Mataku memanas. Setetes air mengalir di pipiku. Kutatap senja dari balik kaca. Warna orange yang seperti darah, terlihat menyedihkan. Sama seperti aku, seorang Oren Maheswara. Seseorang yang telah kehilangan pedar sinarnya.
                                                                        TAMAT

Komentar

Postingan Populer