Perjuangan Pemuda dalam Membangun Kesadaran Nasionalisme Melalui Pembentukan Organisasi
Perjuangan Pemuda dalam Membangun Kesadaran Nasionalisme Melalui Pembentukan Organisasi
-meongonlen
Sejak mengenyam bangku sekolah, di mata pelajaran sejarah pasti kita dihidangkan dengan perjuangan para pemuda bangsa dalam membangkitkan semangat anti-kolonialisme. Di antara banyak peristiwa sejarah, ada salah satu peristiwa yang sangat menarik untuk ditelusuri dari latar belakang hingga implikasinya terhadap kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu adalah Kongres Pemuda yang berhasil menghadirkan hingga 700-an pemuda dari berbagai latar belakang dari seluruh pelosok negeri. Dalam buku sejarah sewaktu duduk di bangku sekolahan, disebutkan bahwa titik balik perlawanan secara organisasi kepemudaan dimulai dari terbentuknya Boedi Oetomo pada tahun 1908. Namun ketika kita mencoba melihat jauh lagi kebelakang, kita akan menemukan beberapa hal yang mungkin agak sulit diterima karena dalam pemahaman kita sendiri sudah tertanam sejarah tentang pergerakan organisasi kepemudaan itu semenjak SD.
Didirikan oleh Dr.Soetomo, organisasi ini sangat sangat sering diketahui sebagai organisasi pertama yang membawa semangat nasionalisme. Walau ternyata setelah kita benar-benar kembali menelusuri literatur sejarah, kita akan mengetahui ternyata dalam berbagai sumber disebutkan bahwa Sjarikat Dagang Islam sudah terlebih dulu berdiri pada 16 Oktober 1905 di Surakarta oleh H. Samanhoedi. Bahkan karena dirasa butuh persiapan yang matang sebelum mendirikan sebuah organisasi niaga tersebut, diterbitkanlah sebuah surat kabar bernama Taman Pawarta pada tahun 1902. Kemudian juga dengan memulai membangun relasi dengan organisasi niaga Cina bernama Khong Sing. Selanjutnya SDI berganti nama dan skala (bukan lagi khusus niaga) menjadi Sjarikat Islam pada 1906. Dikarenakan setelah itu mendapat skorsing dari residen Surakarta pada 1912, kepemimpinan SDI diserahkan kepada Hadji Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya. Inilah cikal bakal dari Partai Sjarikat Islam Indonesia yang nantinya memiliki pengaruh besar dalam pendirian Indonesische Eenheidscomite atau Komite Persatuan Indonesia dan pendirian Permoefakatan Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia.
Kembali ke Boedi Oetomo. Apakah Boedi Oetomo adalah organisasi yang bersifat Nasionalis? Pertanyaan ini cukup mudah untuk dijawab. Kebanyakan orang pasti bisa menjawab dengan lantang bahwa BO merupakan organisasi yang nasionalis. Namun ketika kita merujuk ke buku Nasionalisme dan Revolusi Indonesia karya George McTurnan Kahin, kita bisa menemukan fakta unik bahwa mayoritas anggota BO adalah pegawai pemerintahan kolonial Belanda dan bangsawan Jawa. Bagaimana mungkin organisasi yang beranggotakan ‘orang dalam’ memiliki asas nasionalisme dan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan bangsa dan memerdekakannya? Tentu tidak. Hal ini bisa diperkuat dengan tulisan Prof. Dr. Slametmuljana dalam bukunya, Nasionalisme Sebagai Modal Perdjuangan Bangsa Indonesia. Disebutkan bahwa ketika Kongres Boedi Oetomo yang kedua di Jogjakarta pada 1909, beliau Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mengusulkan agar keanggotaan BO diperluas dan dibuka untuk seluruh Indiers atau anak Hindia (orang yang lahir dan hidup di tanah Hindia Belanda). Namun usul beliau ditolak mentah-mentah oleh Dr. Radjiman Wediodiningrat. Karena hal tersebut akhirnya Tjipto keluar dari BO dan disusul oleh Ki Hadjar Dewantara yang ikut keluar beberapa waktu kemudian karena menilai bahwa BO merupakan organisasi yang bersifat ekslusif. Beberapa kalangan pun berspekulasi bahwa Boedi Oetomo sengaja dibentuk untuk mematahkan benih-benih nasionalisme yang pada awalnya sudah ditanam oleh SI.
Kalangan Boedi Oetomo dan Jong Java (yang merupakan gerakan kepemudaan dari BO), memiliki visi tentang Jawa Raya atau bisa disebut juga dengan Jawanisme sebagaimana yang dituturkan oleh pakar sejarah Prof. Slametmuljana, dan B.H.M Vlekke, serta Mr. A.K Pringgodigdo. Dalam rapat tahunan di Bandung pada tahun 1915, sikap ‘nasionalisme Jawa’ dari BO semakin dipertegas. Ketua umum terpilih yaitu R. Sastrowidjono menyerukan kepada hadirin untuk berdiri dan bersama-sama dengan lantang mengucap:
“Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo”. Oleh sebab itulah R. Sjamsoeridjal melepas jabatannya sebagai ketua umum Trikoro Dharmo (Jong Java).
Kita rehat sejenak dari membahas perjalanan Boedi Oetomo. Sekarang kita akan membahas perjalanan seorang Sjamsoeridjal pasca mundur dari Jong Java.
Pada tanggal 1 Januari 1925, setelah menghimpun beberapa keresahan yang timbul selama mengikuti perjalanan Jong Java, Sjamsoeridjal bersama beberapa pemuda mendirikan Jong Islamieten Bond. Pada akhirnya JIB menjadi organisasi kepemudaan yang mempelopori gerakan pemuda yang bersifat nasionalis dan memiliki skala yang lebih luas. Jauh dan lepas dari ikatan isme kedaerahan. Setelah JIB dan JIBDA(Jong Islamieten Bond Dames Afdeeling, sayap keperempuanan JIB) berdiri, upaya penyatuan gerak juang yang berskala lebih luas dalam membangun kesadaran nasional semakin meningkat ketika Partai Sjarikat Islam bersama JIB menggandeng kalangan intelektual muda Islam yang bertempat di Bandung membentuk Indonesische Eenheidscomite (Komite Persatuan Indonesia) pada Agustus 1926. Kemudian disusul pembentukannya di Surabaya atas inisiatif dari Partai Sjarikat Islam, Persjarikatan Moehammadijah, Jong Islamieten Bond, Pagoeyoeban Pasoendan, Sarekat Madoera, Sarekat Ambon, dan Persatoean Minahasa. Berbekal semangat persatuan yang tinggi, pada Desember 1927 di Jogjakarta dalam kongres JIB yang ketiga, dibicarakan masalah Islam dan kebangsaan, cita-cita persatuan, perempuan dalam Islam, dan perang dalam etik Islam. Dirumuskan pula pengertian nasionalisme dalam pandangan Islam, yaitu harus mencintai tanah air, bangsa, dan agama serta diikuti dengan ditumbuhkannya kesadaran cinta terhadap saudara seagama di luar negeri dan cinta terhadap sesama manusia (Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah jilid I). Bangkitnya api nasionalisme yang dibawa oleh JIB dan JIBDA ini juga mendorong lahirnya Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia pada 1926 dan Jong Indonesia pada 1927. PPPI beranggotakan pemuda pelajar yang menempuh studi di dalam negeri, dan JI beranggotakan pemuda yang menempuh studi di luar negeri.
Sekarang kita coba rangkai bersama arah gerak Boedi Oetomo dengan Jong Java-nya, JIB dengan Indonesische Eenheidscomite-nya, dan perjuangan organisasi pemuda lain seperti Perserikatan Nasional Indonesia dan lain-lain yang nantinya akan memiliki pengaruh besar dalam kongres pemuda kedua yang menghasilkan sebuah keputusan yang terkenal sebagai sumpah pemuda.
Setelah terjadi berbagai penangkapan aktivis yang dianggap membahayakan kepentingan Belanda dan pembuangannya ke Boven Digoel pada 1927. Pada akhir tahun yang sama yaitu pada bulan Desember, Dr. Soekiman dari Perhimpoenan Indonesia dan Partai Sjarikat Islam Indonesia bersama Ir. Soekarno dari Perserikatan Nasional Indonesia mendirikan Permoefakatan Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia(PPPKI), sebuah perhimpunan partai politik yang memiliki visi menyatukan perjuangan dalam membangun kesadaran nasionalisme, pada tanggal 17. Serta diselenggarakannya kongres Jong Islamieten Bond yang ketiga, pada tanggal 23-27, dimana terdapat pembahasan tentang penguatan isu nasionalisme, keperempuanan, dan cita-cita persatuan Indonesia. Dua kejadian tadi seakan menjadi angin segar bagi perjuangan kaum muda Indonesia dalam membangun kesadaran publik akan semangat nasionalisme dan anti-kolonialisme. Namun ternyata hal itu malah mendapat reaksi keras dari keputusan Boedi Oetomo dalam kongresnya pada April 1928 yang menyatakan bahwa BO tetap dalam jalan memperjuangkan visinya yaitu Jawa Raya. Terpantau pula sikap Jong Java yang masih setia menginduk kepada BO yang mengedepankan Jawanisme.
Para pemuda dibuat gempar. Untuk menjawab keputusan Kongres Boedi Oetomo tersebut, segera dalam enam bulan kemudian, Perhimpoenan Peladjar-Peladjar Indonesia menyelenggarakan Kongres Pemoeda II pada 28 Oktober 1928. Kongres tersebut dipimpin oleh Soegondo Djojopoespito. Sedikit membahas Soegondo, beliau adalah pemuda yang memiliki wawasan nasionalis. Maka dari itu Soegondo, walaupun beliau seorang etnis Jawa, lebih memilih aktif di PPPI dan bukan di Jong Java. Kongres ini juga berhasil menghimpun sebanyak kurang lebih 750 peserta dari berbagai organisasi kepemudaan dan perwakilan partai politik. Hadir perwakilan dari Partai Sjarikat Islam Indonesia, Perserikatan Nasional Indonesia, dan Permoefakatan Perhimpoenan Politik Kebangsaan Indonesia. Perwakilan dari partai pun juga merupakan pemuda-pemuda. Salah satunya adalah Kartosoewirjo, pengurus besar PSII dan sebagai perwakilan dari PSII dalam Kongres Pemoeda II, yang ketika itu masih berusia 23 tahun.
Ada satu hal yang menarik bahwa perwakilan dari Jong Java pada saat itu ialah R.M Mas Said. Ketika itu Mas Said sudah bukan lagi sebagai pelajar akan tetapi sudah menjabat sebagai Mantri Polisi. Dapat kita pahami bahwa kehadiran Mantri Polisi, yang berposisi sebagai tangan kanan kolonialis, ketika dilaksanakannya kongres adalah bertindak pula sebagai pengawas. Sebagaimana yang ditulis McTurnan Kahin, pada umumnya anggota BO merupakan bangsawan Jawa dan pejabat yang bekerja kepada kolonial. Maka dari itu satuan kepolisian pun juga diambil dari anggota Jong Java yang notabene sebagai underbouw BO. Kondisi ini sangat berdampak pada keberlangsungan kongres. Seperti yang kita ketahui bahwa W.R Supratman ketika menyampaikan lagu Indonesia Raya terpaksa tanpa syair, hanya musiknya saja.
Pada hari pertama kongres yaitu pada tanggal 27 Oktober, perwakilan PSII, Kartosoewirjo mengusulkan agar bahasa asing tetap dipakai untuk bahasa pergaulan internasional sambil menekankan bahwa bahasa Indonesia harus digunakan sebagai penghubung persatuan pemuda, sebagaimana yang ditulis oleh Mr. Yamin dalam Sumpah Indonesia Raya. Namun namanya terhapus dari sejarah sebab tertuduh sebagai pemberontak pasca kemerdekaan.
Setelah berbagai perwakilan menyampaikan pandangannya beserta diskusi dan saling bertukar pikiran, lahirlah sebuah keputusan yang dinamakan Soempah Pemoeda:
“Kami Poetra dan Poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjondjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia”
Pada akhirnya, peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 itu merupakan jawaban dari berbagai upaya penjajah dalam meredupkan api perjuangan.
Dari kepingan sejarah di atas dapat kita ambil beberapa hal bahwa organisasi kepemudaan pertama yang mempelopori semangat nasionalisme adalah Jong Islamieten Bond. Bahkan pendirian JIB sendiri didasari atas keresahan seorang R. Sjamsoeridjal ketika melihat pergerakan dari Jong Java, underbouw Boedi Oetomo, yang masih sangat konservatif dan belum berkeinginan untuk meluaskan cakupan gerak organisasinya menjadi gerakan nasional. Kita sebagai penerus perjuangan sudah selayaknya benar-benar mengusung persatuan Indonesia, bukan berusaha mewujudkan isme kedaerahan seperti Boedi Oetomo beserta Jong Java-nya. Ahmad Mansur Suryanegara menambahkan dalam Api Sejarah jilid I, tidak mungkin kebangkitan kesadaran nasional dipelopori oleh para priayi yang sedang menjabat sebagai regent atau bupati di bawah pemerintahan kolonial dengan organisasinya yaitu Boedi Oetomo. Pula ketika Kongres Boedi Oetomo pada April 1928, mereka masih tetap memperjuangkan Jawa Raya. Walaupun sudah berusia 20 tahun, BO tetap bersikap ekslusif.
Kembali kita menengok peristiwa sumpah pemuda. Di sana berbagai pemuda dari bermacam latar belakang hadir untuk membicarakan tentang mimpi besar mereka dalam menyatukan Indonesia. Bergerak dari organisasi masing-masing namun secara tegas mereka menyuarakan bahwa mereka itu SATU. Seakan-akan bagi mereka tidak ada sesuatu apapun yang bisa menghalangi mereka dalam mewujudkannya. Bi‘aunillah.
Sumber:
Kahin, McTurnan. 2013. Nasionalisme dan Revolusi Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.
Suryanegara, Ahmad mansur. 2018. Api Sejarah 1, Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bandung: Suryadinasti.
Komentar
Posting Komentar